Sabtu, 16 April 2016

April, cepatlah berlalu.

Cinta, ini beberapa kalinya cinta datang dan menyapa kemudian sirna begitu saja. Entah kenapa pendekatan yang awalnya manis, perjuangan yang tak kenal lelah dan waktu istirahat yang hanya lewat begitu saja terasa begitu singkat setelah aku bersama dia (cinta).

Perjalanan yang pernah ditempuh bersama dan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi seakan menjadi saksi seberapa dekatnya kita waktu itu. Lagu-lagu yang kita dengarkan mengisi setiap sepi yang datang. Canda tawa menghiasi indahnya hari disaat kita bersama, selalu ada cerita di sepanjang perjalanan kita.

Banyak cerita yang kita bagi dan juga banyak makanan yang sudah kita konsumsi bersama, banyak tempat yang menjadi saksi ketika kita sedang memamerkan diri kepada dunia tentang apa itu cinta. Hal-hal konyol pun sering aku lakukan banya untuk membuat dia tertawa, bahkan sampai aku tak peduli seberapa buruknya hal yang aku lakukan itu.

Setiap melihatmu tersenyum hingga tertawa bahagia aku merasa inilah tugasku. Hal sesulit apapun yang aku rasakan, hal seburuk apapun yang aku jalani, aku hanya ingin buat dia bahagia tanpa tau apa yang sedang aku alami.

Hingga suatu hari masalah kian menumpuk menjadi beban yang teramat berat hingga merubah mood di setiap hariku. Di depannya aku berusaha menutupi semua itu. Hingga suatu pagi dering telfon membangunkanku, rasa lelah selepas pulang kerja dan kesadaran yang belum sadar sepenuhnya aku meluapkan emosiku kepada dia yang menyapaku dengan senyum manis, seseorang yang telah membuatku jatuh cinta. Aku berkata tanpa arah dan tujuan yang jelas, berkata apa yang ingin aku katakan tanpa berfikir panjang apakah kata itu pantas untuk aku katakan. hingga akhirnya diapun pergi. . . . . .
Hampa, hanya itu yang aku rasa. Keringat perjuanganku yang selalu aku bangga-banggakan kini tinggallah dongeng belaka, penantian lama untuk memilikinya tiba-tiba sirna sekejap mata.

Langkahku kini semakin berat, senyumku kini entah kemana, kekecewaan ini teramat dalam aku rasakan membuatku malas dan enggan untuk menyapa dunia.
Apakah ini akhir dari kisah manis yang selalu aku sebut dengan nama "Cinta". Ataukah ini hanya ujian kehidupan antara bertahan atau merelakan?
Kini hidupku sepi. Tak ada bintang di langit yang mampu mengalahkan sinarnya, di setiap aku menatap langit aku merindukannya. Tak ada rintik hujan yang mampu menyapu senyumannya dan disetiap rintik hujan turun aku selalu ingin berjumpa. Dan di setiap motorku melaju aku hanya ingin ada kamu di belakangku dan memelukku dengan erat untuk menikmati indahnya dunia bersama dan suatu saat bisa kita ceritakan kisah-kisah kita kepada anak cucu kita nanti.

Tidak ada komentar: